Berita

Komandan Kodim 1424 Sinjai Selalu Siap Siaga Antisipasi Bencana

Dandim 1424 Sinjai Siap Siaga Bencana

SINJAI.BPBDKab. Komandan Kodim (Dandim) 1424 Sinjai, Letkol Inf. Oo Sahrojat menyatakan bahwa dirinya bersama dengan jajaran prajurit TNI Kodim 1424 Sinjai, khususnya para Bintara Pembina Desa (Babinsa) selalu siap siaga dalam mengantisipasi terjadinya bencana di setiap jengkal wilayah territorial Kabupaten Sinjai.

Hal itu diungkapkan Letkol Oo Sahrojat saat berbincang santai dan menyampaikan ucapan selamatnya kepada Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Bencana Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sinjai, Budiaman dalam sebuah acara tidak resmi baru-baru ini.

Lebih jauh Dandim 1424 Sinjai ini juga menegaskan, bahwa pihaknya siap mendukung dan akan ikut terlibat aktif dalam setiap upaya penaggulangan bencana, mulai dari tahap pencegahan hingga pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi seperti yang telah dilaksanakan oleh jajaran TNI Kodim 1424 Sinjai selama ini.

Atas dukungan orang nomor satu di jajaran TNI Kabupaten Sinjai ini, Plt Kepala BPBD Kabupaten Sinjai, Budiaman juga menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada Komandan Kodim 1424 Sinjai beserta segenap jajaran TNI 1424 Sinjai, dan dirinya pun berupaya untuk lebih meningkatkan hubungan koordinasi dan kerjasama yang baik antara Kodim 1424 Sinjai dan BPBD Kabupaten Sinjai.

Sementara itu, bentuk lain dari konsistensi dan komitmen kepedulian Komandan Kodim 1424 Sinjai terhadap kesiapsiagannya dalam mengantisipasi bencana, juga tercermin dari keaktifannya mengikuti perkembangan terkini terkait dengan kebencanaan, seperti perhatiannya yang hari ini membagikan informasi tentang substansi arahan Presiden RI dalam Rakornas Bencana di Surabaya.

Adapun arahan Presiden yang dibagikan itu, pada intinya memberikan penekanan tentang penguatan koordinasi dan konsolidasi potensi nasional untuk menghadapi bencana, yang terdiri enam poin.

Pertama. Perencanaan, rancangan dan pembangunan tata ruang harus memperhatikan peta rawan bencana. dalam rangka mitigasi bencana. Dengan melihat siklus bencana yang selalu berulang, lokasi bencana sering di tempat yang sama. Misalnya di NTB, daerah yang dilanda gempa pada tahun 2018 ternyata juga pernah terjadi pada tahun 1978. Gempa di Palu juga sama terjadi sebelumnya.

Setiap rancangan pembangunan ke depan harus dilandaskan pada aspek-aspek pengurangan risiko bencana. Bappeda harus paham hal ini, di mana daerah yang boleh dan tidak boleh diperbolehkan. Rakyat betul-betul dilarang untuk masuk ke dalam tata ruang yang memang sudah diberi tanda merah. Mereka harus taat dan patuh kepada tata ruang.

Kedua, Pelibatan akademisi, pakar-pakar kebencanaan untuk meneliti, melihat, mengkaji, titik mana yang sangat rawan bencana harus dilakukan secara masif. Para peneliti dan pakar harus mampu memprediksi ancaman dan mengantisipasi serta mengurangi dampak bencana.

Libatkan akademisi dan pakar, jangan bekerja hanya saat terjadi bencana. Pakar di Indonesia meskipun tidak banyak tetapi ada, sehingga kita mengetahui adanya megathrust, pergeseran lempeng dan lain-lain. Setelah pakar berbicara, kemudian sosialisasikan kepada masyarakat.

Ketiga, Apabila ada kejadian bencana, maka otomatis Gubernur akan menjadi komandan satgas darurat bersama Pangdam dan Kapolda menjadi wakil komandan satgas. Jangan dikit-dikit naik ke pusat.

Keempat, Pembangunan sistem peringatan dini yang terpadu berbasiskan rekomendasi dari pakar harus dipakai, termasuk hingga ke level daerah. Kepala BNPB mengkoordinasikan K/L (Kementerian dan Lembaga) terkait agar sistem peringatan dini segera terwujud dan kita pelihara dan rawat. Belajar dari Jepang, masyarakat tidak panik saat gempa. Mereka baru berlari ketika ada sirine dan mengetahui jalur evakuasi.

Kelima, Lakukan edukasi kebencanaan. Harus dimulai tahun ini yang dilakukan di daerah rawan bencana kepada sekolah melalui guru dan para pemuka agama. Oleh karena itu, papan peringatan diperlukan, rute-rute evakuasi diperlukan. Segera dikerjakan agar ada kejelasan ke mana evakuasi harus dilakukan saat ada ancaman bencana?

Keenam, Lakukan simulasi latihan penanganan bencana secara berkala dan teratur untuk mengingatkan masyarakat kita secara berkesinambungan sampai ke tingkat RW hingga RT, sehingga masyarakat kita betul-betul siap menghadapi bencana. Bencana bukan hanya tsunami, banjir, tanah longsor, gempabumi dan lain-lain. Bencana yang banyak menelan korban adalah gempabumi.

Selain itu, Presiden juga berkesempatan berdialog dengan peserta Rakornas yang pernah mengalami pengalaman bencana besar seperti Palu dan Aceh, yang pada akhir dialognya Presiden berpesan kepada Bappenas dan Bappeda agar merancang jalur evakuasi dan bangunan untuk melakukan penyelamatan dari tsunami.

“Pemerintah seringkali ketinggalan dari masyarakat, karena perencanaan belum ada, tetapi masyarakat sudah tinggal di sana. Tetapi kita harus tegas dan tidak seperti dulu. Kita harus kerja cepat dan tidak bisa lagi kerja lambat. Sekali lagi, kita harus mengkonsolidasikan dan mengkoordinasikan semua kekuatan yang dimiliki untuk mengantisipasi bencana alam di Indonesia” pesan Presiden. (Andi Oktave)

Comment here